Rabu, 16 Desember 2009

Nafisa Najla

Malam telah melarut

Tak ada jeda yang bersambut di penantian itu
Menunggu, menyisakan pengharapan dan segudang pertanyaan
Menanti, merindukan cinta menebar hiba

Dua jam menunggu….
Rasanya penat benar rasa tak sabar
Melihat kenikmatan rasa yang perih kau pendam
Kau tutupi juga dengan senyum kecil di sudut bibir kecil…

Aku tahu Bunda, kau rasakan kegetiran….
Namun tekadmu takkan buat semua jadi sia
Angan yang telah kita rajut adalah buah cinta….
Kasih yang telah kita tanam adalah jalinan rasa….

Alhamdulillah……..
Puji syukurku atas segala nikmat tanpa batas
Atas rahmat yang tak henti Kau limpahkan ya Penguasa….
Kau hadirkan juga Kerinduan jiwa
Kau turunkan juga doa-doa kami sang penghiba

Kau ijinkan Nafisa Najla Salwa Sahara
Bersama kami meraih nikmat segala syurga

Ohhhhh Yang Maha Agung….

Berilah lautan KasihMu agar Najla tumbuh penuh cinta
Berilah hamparan SayangMu agar Najla tumbuh terhindar dosa
Berilah langit KuasaMu agar Najla bersandang Iman dan Taqwa

Ohhhhh Yang Maha Mulia….

Turunkan segala KemuliaanMu,
Taburkan segala KeindahanMu
Wahyukan segala TitahMu
Tuntunkan segala HidayahMu
Untuk Kami ….
Dan Najla …. Anakku

Purwokerto, April 2006

Selengkapnya......

perenungan jiwa

Perenungan 1

Pagi sudah beranjak,

Matahari sepenggalah berjalan di atap-atap jiwa,
Kemana anakku akan pergi membasuh mukanya,
tangannya, kakinya,
Kemudian memikul buku dipundaknya

Aku selalu bergumam sendirian
Mencoba melafalkan doa-doa
Menggelar restu akherat
Menuntunkan jihad di hati mereka

Ini adalah perang anakku
Ini adalah perang!
Lawanlah syetan di dada kirimu
Kalahkan!
Sampai kemenangan ada di tanganmu!

Perenungan 2

Ketenangan hakekat, membawa percikan zuhud
Pelan bagaikan irama sutra
Akhirnya mampu juga
Menyentuh kedalaman kalbuku

Kunanti begitu lama
Ranting itu bersemi indah
Dari kenikmatan meranggas
Menggugurkan dedaunan
Meluluhlantakkan dahan

Dan sekarang ….
Kenikmatan iman itu
Begitu sejuknya
Mengguyur tubuh
Hingga hangat … dan abadi
Pada sisa-sisa pengharapan jiwa.

Pendekar Malam
Purwokerto, Juni 2005


Selengkapnya......

perenungan jiwa



Apakah masih ada yang meratapi dosa

Di sela-sela kesibukan, di sela-sela penatnya penantian
Kealpaan yang sengaja dibuat-buat
Atau kebiasaan riba yang sulit di raba


Apakah masih ada yang menghimpun cinta
Diantara penindasan di meja-meja kantor
Eksekusi nilai kematian sia-sia
Atau pemberian obat untuk yang pura-pura sekarat


Apakah masih ada yang merajut doa
Di antara kalimat syahadat yang syahdu
Di keheningan malam yang larut
Di jeda dua khotbah Jum’at
Di akhir shalat fardhu dan sunah


Di ramadhan penuh pahala cinta dari kasihNya
Di batas puasa senin dan kamis
Puasa dawud atau Arafah
Di pemberian kepada fakir,
zakat, infaq dan shodaqoh


diantara taburan manusia di Mina dan Jedah
diantara rukun haji;
sa’i, indahnya thawaf, melempar jumrah
menginap di mundhalifah atau
saat-saat manis mengadu Sang khaliq di Masjid Nabawi

apakah masih ada yang mengharap syurga
menyerahkan segala nikmat
membumikan niatan untuk menjadi kekasih Allah
bersujud…


menanti panggilan suci…

Pendekar Malam
Purwokerto, 18 January 2005


Selengkapnya......

Nurani

Malam

Malam sudah melarut di keremangan


Bebunyian cinta mengarak serasa di peraduan


Bintang tak bersayap


Bulan terhenti sesaat


Aku terhanyut dalam kebisuan






Berat di punggung tak pernah aku rasa


Kerna kekuatan nurani atau entah apa


Mendorong keinginan maha dasyat


Untuk tidak mundur walau satu jengkal






Wahai bumi


Seandainya engkau tlah diberi amanahNya


Untuk berzikir di atas hamparan kasih


Untuk meraja di bawah langit-langit cinta


Lalu kenapa mesti ada senandung murka?






Aku menunduk


Pelan aku raba, takut kalau tlah kehilangan rasa


Takut kalau mata tlah menjadi buta,


Menjadi tuli lalu lupa…


Semuanya






(aku masih pura-pura tak mengerti)




 
Pendekar Malam


Purwokerto, 18 January 2005

Selengkapnya......